kepompong menyanyikan persahabatan
October 10, 2008
Reff :
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong
Menarik, ketika saya searching kata “persahabatan”, “kepompong”…langsung yang keluar lirik lagunya Sindentosca, asli..dari hasil pencarian nomer urut 1 sampai terakhir di halaman pertama google..semuanya tentang lirik lagu band tersebut.
Lucunya, saya dan istri sempat ngledekin penyanyinya, mulai dari lagunya (termasuk lirik lagu “..na, na, na..”), video klipnya sampe ekspresi penyanyinya yang seperti orang apatis..hehe. Tapi ya itu, justru lama2 didengar, istri malah nyari lagu itu, pengin didownloadin.. hehe
liriknya sederhana, cuman mungkin keunikannya ya karena menampilkan sesuatu yang beda…so simple, lirik yang simple, penggunaan melodi yang sederhana dan video klip yang tidak elitis..pokoknya salut deh ama yang bikin ide lagu ini..
Trims juga, karena sekarang kalo lagi ledek2an ama istri, kita punya panggilan satu samalainnya …yakni kepompong, hehe
Pragmatis karena benar !
February 11, 2008
Kawan, pernah kah anda mencoba menghitung berapa besar penghasilan tukang sol keliling yang sudah memulai aktifitasnya sejak pukul 6 pagi dengan berjalan kaki? Atau yang lebih simple, pernahkah ketika anda berangkat kerja seolah disekililing mobil atau motor anda lebih banyak beredar para PKL, pengamen atau anak jalanan? Jujur saya terganggu, bukan karena saya kejam atau tidak kasihan. Tetapi karena empati saya ternyata tidak sebanding dengan jumlah mereka. Setiap iba saya muncul, selalu ada wajah memelas ataupun tangan yang terulur dalam setiap perhentian berikutnya. Justru saya khawatir, akumulasi iba ini menjadikan saya nantinya sangat kebal dengan potret kemiskinan di Jakarta.
Dahulu, saya meyakini, bagian paling mendasar agar kualitas hidup saya satisfied adalah dengan memahami konsep kebahagiaan yang paling dasar, memberi kegunaan (kebahagiaan untuk orang lain).
Sungguh effort saya untuk menjadikan konsep ini begitu idealis. Dan faktanya, konsep ini menjadikan saya sempat down, karena ternyata mengoptimalkan sense of empaty ternyata sangat menguras energi.
Terkadang seperti memainkan sebuah sandiwara, dimana kalau dipaksakan main maka akan membuat banyak peristiwa panggung yang tidak terpikirkan (missing-link) atau mudah terkena penyakit demam panggung. Empati yang muncul di permukaan, kadang tidak pernah bisa meredusir anti pati yang mengendap di batin yang terdalam. Kalau hal ini terjadi maka bentuk pembelaan-diri apapun di hadapan penonton tidak bermanfaat untuk menangkis peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.
Premis-premis yang mendengung memenuhi ruang kepala selalu berkecamuk, memberikan perumpamaan yang membuat saya merasa bersalah.
“Tak ada yang menodongkan pestol ke kepala dan memaksa Anda menjadi penghuni Jakarta. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia, dan Jakarta adalah sorga dunia”
Lucunya, ada terselip premis positif yang menjadikan saya sedikit terangkat moral
“Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab: hidup di desa belum tentu damai; jakarta belum tentu kejam” Last but not least, mungkin saya oportunis, bahkan judgement sebagian kawan menilai saya adalah pragmatis..
Tapi saya yakin, sudah lewat masa saya mencari tantangan. Yang ada justru tanggungjawab baru, fase dimana tantangan yang datang semakin kompleks. Saya yakin, tantangan bisa kita olah hanya menjadi sebuah pilihan, tapi tanggungjawab…adalah keniscayaan.
menikah itu (apa) seharusnya mandiri..
January 8, 2007
ini tentang sebuah rencana..
acap kali saya melihat cincin kawin hanya penghias tangan..dingin, nyaman tapi bertahtakan beban dan ..
sering kali sebagai simbol pengingat..(karena) melekat itu perlu, menjerat itu mengganggu bukan?
yup..kebutuhan akan cincin kawin. Mungkin modal awal untuk membangkitkan kepercayaan diri manakala melihat daftar kebutuhan pernikahan yang tidak berbanding lurus dengan anggaran..
di saat seperti ini, saya ingin sekali berdebat dengan para penganut YPN-isme..(Red:Yang Penting Niat)..sepertinya mereka adalah sosok hebat yang ingin membuktikan sesuatu..(hak paten maybe?).
Ada cerita unik, kemarin di sela-sela mendengarkan cerita teman saya berkerudung dalam memaparkan perjuangannya akan menikah, saya secara tidak sengaja sempat ditanya “kenapa tidak segera manikah”
Dan saya dengan asal (namun dengan unsur kesengajaan yang rasional) menjawab pendek, “..belum ada duit neh..”
Tahukah jawaban tokoh tersebut? “Ati-ati lo mas, alasan itu yang sering jadi setannya..”
Jujur saya sempat berniat protes karena itu fakta yang saya alami, namun saya cukup berhasil meredam dengan berbalik memujinya
“Kamu hebat yah neng, udah sukses bisa mengadakan pernikahan sendiri..doakan saja saya cepat menyusul rejekinya..”
dan sesuatu yang membuat saya tertegun (terkaget dan tersenyum)..saat teman berkerudung saya bilang..
“ah saya juga dibantu ama orangtua kok, mas..”
…
jujur,.. saat itu saya merasa sedikit terhibur..karena sampai detik ini seluruh anggaran pernikahan, masih (dan akan ) berasal dari hasil keringat, hasil lelah saya…SENDIRI
..Allahu Akbar, berilah hamba kekuatan…Mudahkanlah rejeki kami..
dan saya semakin mengembangkan senyum…indahnya pernikahan
Mbah marijan dan kebangkitan nasional
May 19, 2006
20 Mei …
Sosok terkenal dalam sekejab, konservatif (bahkan seantero kaum rasionalis menjadikannya sasaran tembak segala ilmu dan teknologi),apa lacur..ternyata dia mampu merontokkan keakuratan data statistik,menepis sabda tuannya,hingga menebar pesona bagi sebagian besar penikmat sekulerisme di media akan makna kemenangan. Read the rest of this entry »
GEMPA…LINDU…EARTHQUAKE
May 12, 2006
Aku merasakan layar gelas minumanku bergetar menampakkan lingkaran bak pusaran didalamnya..kulihat sekelilingku, wuih..gelap banget,
Ada yang berbeda kurasa, kupikir Merapi meletus…atau setidaknya pertanda buruk lainnya mengingat sudah 3 hari hujan terus menerus setiap sorenya.
Ahh…inilah pengalaman baruku dalam kerja baru selama seminggu ini. Begitu asing, seperti juga saat menyadari sudah 4×24 jam lebih aku berkutat dengan hal2 baru.. Read the rest of this entry »
yup..apa yang terbayang di sekelebat memori otakku tidak lebih dari persinggahan sementara, kelak..semuanya akan tertinggal dangan apa yang disebut kenangan. Mengumpat, mengutuk, mencaci..adalah bagian luapan emosi yang seharusnya bisa lebih bijak manakala bisa di endapkan dalam batas ambang yang terendah, dari apa yang kita sebut..ikhlas.
Seperti ketika aku mencoba menelaah lebih jauh mengenai apa yang masih bisa aku sebut ..kompleksitas psikis syndrome(KPS).. Mungkin tak selamanya yang kita alami itu bisa menjadi supporting untuk kebaikan sendiri,bila hidup itu menawarkan banyak pilihan tentu kesenangan akan menjadi “tool” yang paling bisa diharapkan. Setidaknya aku bisa menempatkan itu sebagai capaian pendek di setiap akhir pekan..
Hidup dalam komunitas baru selalu memberikan banyak tantangan..termasuk juga
masalah. Setidaknya ini yang aku harapkan sebagai upaya me-refresh diri.Tiga tahun bukan lah waktu yang lama, dan samasekali tak terasa pendek…Bila kodrat manusia membutuhkan keberanian untuk berimprovisasi dengan nasib, tentu yang terbaiklah yang paling di harapkan.
Hari ini, mungkin akan selalu dikenang sebagai hari yang berbeda dari setahun lalu..