cincin1.jpgini tentang sebuah rencana..
acap kali saya melihat cincin kawin hanya penghias tangan..dingin, nyaman tapi bertahtakan beban dan ..
sering kali sebagai simbol pengingat..(karena) melekat itu perlu, menjerat itu mengganggu bukan?
yup..kebutuhan akan cincin kawin. Mungkin modal awal untuk membangkitkan kepercayaan diri manakala melihat daftar kebutuhan pernikahan yang tidak berbanding lurus dengan anggaran..
di saat seperti ini, saya ingin sekali berdebat dengan para penganut YPN-isme..(Red:Yang Penting Niat)..sepertinya mereka adalah sosok hebat yang ingin membuktikan sesuatu..(hak paten maybe?).
Ada cerita unik, kemarin di sela-sela mendengarkan cerita teman saya berkerudung dalam memaparkan perjuangannya akan menikah, saya secara tidak sengaja sempat ditanya “kenapa tidak segera manikah”

Dan saya dengan asal (namun dengan unsur kesengajaan yang rasional) menjawab pendek, “..belum ada duit neh..”
Tahukah jawaban tokoh tersebut? “Ati-ati lo mas, alasan itu yang sering jadi setannya..”
Jujur saya sempat berniat protes karena itu fakta yang saya alami, namun saya cukup berhasil meredam dengan berbalik memujinya
“Kamu hebat yah neng, udah sukses bisa mengadakan pernikahan sendiri..doakan saja saya cepat menyusul rejekinya..”
dan sesuatu yang membuat saya tertegun (terkaget dan tersenyum)..saat teman berkerudung saya bilang..
“ah saya juga dibantu ama orangtua kok, mas..”

jujur,.. saat itu saya merasa sedikit terhibur..karena sampai detik ini seluruh anggaran pernikahan, masih (dan akan ) berasal dari hasil keringat, hasil lelah saya…SENDIRI
..Allahu Akbar, berilah hamba kekuatan…Mudahkanlah rejeki kami..
dan saya semakin mengembangkan senyum…indahnya pernikahan

icon_seni_budaya1.gifSebuah berita di harian nasional cukup membuatku terusik untuk membacanya berulang-ulang,..lebih dari biasanya…”Microsoft menyuap (secara diam-diam) blogger dengan laptop..”
ah.. what amazing news? Microsoft? Blogger? atau mungkin merek dari laptop tersebut?
sepertinya pemikiranku akan berangkat dari item-item tersebut, ..namun saya teringat pada satu hal..yang mungkin dapat disusun dalam satu fakta awal ketika..si blogger itu ternyata rajin membuat tulisan setiap harinya, tentu dari situ dia terasah secara teori dan analisis mengingat kiprahnya yang mendapat pengsayaan dari para pengunjung blognya..yang mempunyai dampak justifikasi terhadap validitas tulisan si empunya blog sebagai salah satu alternatif rujukan terhadap suatu fenomena baru.
Berangkat dari kekuatan “tulisan” yang eksis..saya merasa ada perasaan hangat menggeliat ingin melepaskan diri dari kebekuan dan stagnasi yang mengkungkung..kerinduan akan suara tut komputer, perasaan haru biru dan senyuman yang mengembang saat menemukan padanan kata yang runtut..dan alur yang selalu memunculkan cerita-cerita baru, bahkan konflik yang sering terselip dalam setiap ending yang mutlak sepenuhnya berpulang pada kebebasan pikir seorang..penulis.
Dan kemerdekaan seorang penulis adalah kebebasan dalam berfikir, mengeksplorasikan apa yang diyakininya untuk terus berkembang, tumbuh mengakar kuat pada setiap geliat wacana dan rencana..
Dan kemerdekaan itu tidak pernah bisa dijajah oleh keterbatasan apa yang dimiliki,..ketejajahan itu ada pada pikiran kita yang mati, lemah terkontaminasi keraguan, ketesayatan dan jenuh yang tak berujung…
Pembelaan diri yang meninabobokanku dalam penghujung tahun lalu..
New year.. Read the rest of this entry »

terbang1.jpg“Beri tahu, apakah janji itu tak ubahnya pendulum retak! ataukah dia justru lonceng yang bisu? tak ubahnya bergema tanpa keluarkan bunyi ..sepersekian quantum berat ataupun massa suara!!

Atau mungkin hanya bisa didengar oleh mereka yang begitu bodoh, meresap mengamini semua yang menjadi sabda para penjilat berdasi dan bersembunyikan wajah intelektual mereka? Lalu siapa yang menuai racun itu? Siapa yang memberi racun-racun yang megah mematikan? Jika dicuri begundal pun akan segera habis, karena jilat manis lesan bibir tipis kalian, yang layak terikat di atas meja saji. Read the rest of this entry »

iwakDi..antara ‘Introvet” dan ‘Extrovet”, hati letih memilih, dengan dunia yang tak berbatas apa seh yang takbisa? bila yang bimbang itu peragu, yang lemah pastilah binasa.. peran yang dijalani akan sampai pada suatu masa, di mana arti kejujuran terinjak dogma, letih diam merengsek pergi..

Lalu meluruhlah waktu. Tanpa bisa apalah daya! Aku menulis sekedar berucap: masihkah aku introvert?

Selembar kertas tak cukup menahan luapan gairah merindumu Sungguh salah ucap nama bukan kesan terindah di awal perkenalan Debum jantung lebih kunikmati sebagai pengingat pesan

Sepertimu dulu dipelupuk mata, semua telah terbaca,tinggal melepas sauh sebelum senja kian menjauh, namun…tetap saja luruh…

Saat kudapati diri tercenung, ..kosong tak bergeming,..ku mendekat Kau malah menghilang dalam ribuan kumbang madu berserak

Lalu meluruhlah waktu. Tanpa bisa apalah daya! Aku bertahan setelah mengucap; perlukah aku ekstrovert?

Mungkin malam belum habis, inilah ode paling manis yang bisa kutulis. Dan bukankan lebih layak bila pikirku bertanya, ; “introvert” atau “ektrovet” dirimu?

Sering aku merindu bincang singkat kita tentang malam
berkali-kali kulihat bagaimana telunjukmu menunjuk bintang sebelum benar-benar hilang
aku sadar lontaran kata bijak selalu menitipkan banyak makna
kita dikisahkan sebagai rasi bintang yang tak pernah meredup menelusur perjalanan
setiap putaran waktu terus membawa kita menunduk takzim
tanpa mitos kisah lelaki tak bertuan, atau agama tak berseragam
sudahlah…inilah tempat kita melabuh sauh pagi hari
dunia sudah terlalu bising dikala terang
……
der Lalu aku masih saja berkutat dengan tulisan, ide-ide gila yang kupikir sebenarnya selalu membuat sensasiku melebihi apa yang masih bisa terjangkau akalku. Bila perubahan adalah sesuatu yang bisa tiap saat kita ciptakan, takan mudah aku berpindah hati menjinakkan sisi liarku menghamba mu…wahai dunia…