Dia seorang pemimpi, bukan sosok ksatria tapi lebih memilih petarung sebagai kepribadian yang tangguh, mencari standar keadilan, (standar adil adalah minimal yang didapatkan)..dan mengenai diri sendiri, theres nobody can judge him with there opinion on me…as like the other i would like to say that he is an adventurir till this moment…till the end of destination. Separuh masa dihabiskan di sebuah kampung yang begitu damai, dimana masih bisa ditemukan air sungai yang menjadi cermin langit..
Tentu tidak mudah menjadi sosok yang berbeda seperti juga kita bisa mendefinisikan makna “diam” menjadi makna yang tersurat. Ah sudahlah, setidaknya dia mengalami masa remaja dengan lurus..(terlalu lurus maybe..). Mencari sosok panutan adalah proses penerimaan identitas diri yang menginginkan sesuatu lebih dari sekedar arti biasa. Mendobrak rule atau mengikuti arus tidak lebih dari sekedar pelampiasan entitas sosial yang sedari kecil tertanam benar.
Masa Puber tak sekedar mengenal lawan jenis, mengukur tingkat penerimaan diri dan orang lain menjadi alasan yang mengemuka kenapa ketika dia lebih suka menjatuhkan pilihan kepada mereka yang terpilih,.entahlah, karena terpikir baginya mungkin memilih lebih berat dengan konsekuensinya, sedang kan dipilih? wow…thats exciting feeling , taruhlah itu menjadi bagian pemaknaan diri sehingga kita akan selalu menghargai arti konsekuensi sebuah pilihan.
Bermain perasaan tidak lebih dari mengendalikan debum-debum tak beraturan setiap kali mata beradu, lesan berucap, dan hati berasa..itulah kenapa dia sangat menghargai keindahan dengan menjadikannya pajangan hati yang senantiasa ingin dimiliki. Terlalu serius orang memvonisnya, seolah setiap hubungan itulah masa nya berakhir..Dia pikir tidak perlu menjelaskan orientasinya setiap waktu kepada komunitasnya, dan dalam banyak hal mereka benar setiap kali “yang terpilih itu” ..hilang.
Menjadi sosok dewasa bukan suatu keharusan, menjadi tua suatu keniscayaan. Menjadi makhluk yang lebih mempertanggungjawabkan segala perilaku dan pilihan bagi nya sebagai suatu penghargaan yang semestinya. Taruhlah dengan menempuh kuliah d tempat yang jauh, apa yang bisa dia inginkan tentu tinggal niat yang berperan,..dan terjadilah! Setidaknya 5 tahun tempaan lebih membuat nya bisa mengerti, bahwa kegagalan itu perih, bukan keberhasilan yang tertunda! bahwa kesuksesan itu suatu keharusan, bukan pada proses yang lama..Jadilah dia sebagai penikmat dunia kampus yang penuh dengan oportunis di segala hal, karena ..dia bertanggungjawab pada dirinya.
Sekarang, dia sudah mencoba meretas hasil dari apa yang mulai dia pilih. Setidaknya..dia masih berproses.
Dulu,bekerja lebih pada metamorfosa pengakuan potensi diri menjadi segepok materi dalam lembaran merah yang terkadang..menjadi candu terindah. Sungguh bukan sikap munafik kalo ternyata dalam setiap perubahan kerjaan ternyata terjadi proses penyesuaian orientasi. Terobsesi pada suatu hasil ternyata bukan pada effort yang terlalu berlebih, melainkan pada kearifan ego untuk menempatkan diri pada sesuatu perumpamaan apa yang kita sebut..bahagia.
mengenal percintaan, menjalin pertemanan, mengikuti alur pekerjaan, menyeimbangkan iman dan keduniawian,..whats next..?
..so, it will gonna be long long ..story
Trust me…life should be interisting, isn it?