Pragmatis karena benar !

February 11, 2008

Kawan, pernah kah anda mencoba menghitung berapa besar penghasilan tukang sol keliling yang sudah memulai aktifitasnya sejak pukul 6 pagi dengan berjalan kaki?  Atau yang lebih simple, pernahkah ketika anda berangkat kerja seolah disekililing mobil atau motor anda lebih banyak beredar para PKL, pengamen atau anak jalanan? Jujur saya terganggu, bukan karena saya kejam atau tidak kasihan. Tetapi karena  empati saya ternyata  tidak sebanding dengan jumlah mereka. Setiap iba saya muncul, selalu ada wajah memelas ataupun tangan yang terulur dalam setiap perhentian berikutnya. Justru saya khawatir, akumulasi iba ini menjadikan saya nantinya sangat kebal dengan potret kemiskinan di Jakarta.

Dahulu, saya meyakini, bagian paling  mendasar agar kualitas hidup saya satisfied adalah dengan memahami konsep kebahagiaan yang paling dasar, memberi kegunaan (kebahagiaan untuk orang lain).

Sungguh effort saya untuk menjadikan konsep ini begitu idealis. Dan faktanya, konsep ini menjadikan saya sempat down, karena ternyata mengoptimalkan sense of empaty ternyata sangat menguras energi.

Terkadang seperti memainkan sebuah sandiwara, dimana kalau dipaksakan main maka akan membuat banyak peristiwa panggung yang tidak terpikirkan (missing-link) atau mudah terkena penyakit demam panggung. Empati yang muncul di permukaan, kadang tidak pernah bisa meredusir anti pati yang mengendap di batin yang terdalam. Kalau hal ini terjadi maka bentuk pembelaan-diri apapun di hadapan penonton tidak bermanfaat untuk menangkis peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

Premis-premis yang mendengung memenuhi ruang kepala selalu berkecamuk, memberikan perumpamaan yang membuat saya merasa bersalah.

“Tak ada yang menodongkan pestol ke kepala dan memaksa Anda menjadi penghuni Jakarta. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia, dan Jakarta adalah sorga dunia”

Lucunya, ada terselip premis positif yang menjadikan saya sedikit  terangkat moral

“Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab: hidup di desa belum tentu damai; jakarta belum tentu kejam” Last but not least, mungkin saya oportunis, bahkan judgement sebagian kawan menilai saya adalah pragmatis..

Tapi saya yakin, sudah lewat masa saya mencari tantangan. Yang ada justru tanggungjawab baru, fase dimana tantangan yang datang semakin kompleks. Saya yakin, tantangan bisa kita olah hanya menjadi sebuah pilihan, tapi tanggungjawab…adalah keniscayaan.