menilai editor itu..beda yah
January 12, 2007
surprise..!Thats all the funny times in my past..when i get my first part time job in my college..its gonna be my new experience that make me learning more bot how to be journalist..
Sepintas saya merasa tersanjung saat mengenang sedikit keceriaan pada waktu berkecimpung di dunia jurnalistik kampus. Sebuah dunia baru yang membuat saya lebih berfikir dan beraktifitas efektif..mengapa? Karena saat itulah saya mengenal kata deadline! yah sesuatu yang membuat degup jantung dan pemicu otak serta adrenalin instan..Dan semua ketegangan itu hanya dapat terbayar saat melihat hasil cetakan koran kampus setiap bulannya..Dunia yang menarik bukan? Menjadi mahasiswa jurnalis ataupun jurnalis mahasiswa selalu memberikan pengalaman baru dan unik dalam setiap prosesnya. Entah kenapa, saya tidak pernah berhenti bersyukur atas segala kesempatan dan lesson learning yang membaptis saya untuk lebih mencintai dunia jurnalistik..
Mungkin bila ditarik kebelakang, mengapa saya sedikit bernostalgia tentang jurnalistik..karena saya tergelitik akan sesuatu yang menarik dari teman saya yang unik dan kini mendapat pekerjaan yang menurut saya asyiiik..EDITOR..sepintas kata itu mengingatkan saya akan sosok yang powerfull dengan tipe-X di tangan kanan dan penghapus di tangan kirinya. Sosok yang begitu dekat dengan kata delete, edit dan hal-hal yang berbau pengurangan (perbaikan) atas sebuah originalitas sebuah masterpiece seseorang yang sudah bersusah payah membuatnya..
Editor dimata saya itu berbeda sekali dengan creator..saya melihat sosok yang lebih (mungkin pemahaman saya kembali pada efisiensi) melihat sebuah produk sebagai sesuatu yang perfect (unfortunately) menurut versinya..Kewenangan (kekuasaan:Red) adalah sesuatu yang menjadi landasan bagi tindakan pencoretan, pengurangan, penambahan ..even penggantian elemen-elemen dalam sebuah masterpiece..tentunya mendekati sebuah kesempurnaan adalah keinginanan luhur seorang editor.
Melihat background seorang editor itu perlu loh guna mengetahui pendekatatan ataupun produk akhir berkiblat..tapi saya selalu salut pada pekerjaan (fungsi) editor..karena tidak mudah loh menjadi seorang yang mempunya kemauan dan kemampuan menyempurnakan masterpiece orang lain..dan saya? Sepertinya saya lebih suka dan sudah jatuh cinta pada sosok ..creator..lebih merasa menjadi diri sendiri dalam mengarahkan kemana otak dan perasaan saya ingin berkembang..tanpa merusak makna orisinalitas sebuah maha karya..apapun itu..
menikah itu (apa) seharusnya mandiri..
January 8, 2007
ini tentang sebuah rencana..
acap kali saya melihat cincin kawin hanya penghias tangan..dingin, nyaman tapi bertahtakan beban dan ..
sering kali sebagai simbol pengingat..(karena) melekat itu perlu, menjerat itu mengganggu bukan?
yup..kebutuhan akan cincin kawin. Mungkin modal awal untuk membangkitkan kepercayaan diri manakala melihat daftar kebutuhan pernikahan yang tidak berbanding lurus dengan anggaran..
di saat seperti ini, saya ingin sekali berdebat dengan para penganut YPN-isme..(Red:Yang Penting Niat)..sepertinya mereka adalah sosok hebat yang ingin membuktikan sesuatu..(hak paten maybe?).
Ada cerita unik, kemarin di sela-sela mendengarkan cerita teman saya berkerudung dalam memaparkan perjuangannya akan menikah, saya secara tidak sengaja sempat ditanya “kenapa tidak segera manikah”
Dan saya dengan asal (namun dengan unsur kesengajaan yang rasional) menjawab pendek, “..belum ada duit neh..”
Tahukah jawaban tokoh tersebut? “Ati-ati lo mas, alasan itu yang sering jadi setannya..”
Jujur saya sempat berniat protes karena itu fakta yang saya alami, namun saya cukup berhasil meredam dengan berbalik memujinya
“Kamu hebat yah neng, udah sukses bisa mengadakan pernikahan sendiri..doakan saja saya cepat menyusul rejekinya..”
dan sesuatu yang membuat saya tertegun (terkaget dan tersenyum)..saat teman berkerudung saya bilang..
“ah saya juga dibantu ama orangtua kok, mas..”
…
jujur,.. saat itu saya merasa sedikit terhibur..karena sampai detik ini seluruh anggaran pernikahan, masih (dan akan ) berasal dari hasil keringat, hasil lelah saya…SENDIRI
..Allahu Akbar, berilah hamba kekuatan…Mudahkanlah rejeki kami..
dan saya semakin mengembangkan senyum…indahnya pernikahan
selamat (memiliki) tahun baru…
January 8, 2007
Sebuah berita di harian nasional cukup membuatku terusik untuk membacanya berulang-ulang,..lebih dari biasanya…”Microsoft menyuap (secara diam-diam) blogger dengan laptop..”
ah.. what amazing news? Microsoft? Blogger? atau mungkin merek dari laptop tersebut?
sepertinya pemikiranku akan berangkat dari item-item tersebut, ..namun saya teringat pada satu hal..yang mungkin dapat disusun dalam satu fakta awal ketika..si blogger itu ternyata rajin membuat tulisan setiap harinya, tentu dari situ dia terasah secara teori dan analisis mengingat kiprahnya yang mendapat pengsayaan dari para pengunjung blognya..yang mempunyai dampak justifikasi terhadap validitas tulisan si empunya blog sebagai salah satu alternatif rujukan terhadap suatu fenomena baru.
Berangkat dari kekuatan “tulisan” yang eksis..saya merasa ada perasaan hangat menggeliat ingin melepaskan diri dari kebekuan dan stagnasi yang mengkungkung..kerinduan akan suara tut komputer, perasaan haru biru dan senyuman yang mengembang saat menemukan padanan kata yang runtut..dan alur yang selalu memunculkan cerita-cerita baru, bahkan konflik yang sering terselip dalam setiap ending yang mutlak sepenuhnya berpulang pada kebebasan pikir seorang..penulis.
Dan kemerdekaan seorang penulis adalah kebebasan dalam berfikir, mengeksplorasikan apa yang diyakininya untuk terus berkembang, tumbuh mengakar kuat pada setiap geliat wacana dan rencana..
Dan kemerdekaan itu tidak pernah bisa dijajah oleh keterbatasan apa yang dimiliki,..ketejajahan itu ada pada pikiran kita yang mati, lemah terkontaminasi keraguan, ketesayatan dan jenuh yang tak berujung…
Pembelaan diri yang meninabobokanku dalam penghujung tahun lalu..
New year.. Read the rest of this entry »
meanwhile,let it be…
January 4, 2007
i’m stuff..its gonna be long long weekend…
Aku sering menanyakan pada beberapa rekan,seberapa jahatkah aku bila aku muak melihat tayangan bencana di seantero nusantara..Pada awal tahun yang seharusnya kita berbenah dan menatap dengan senyum? Dan mereka hanya terdiam, bahkan mencela seraya menggeleng-gelengkan kepalanya..thats like answer for me. Is it wrong? Hampir keseharianku dihadapkan pada tayangan memelas, tangisan yang memilukan, darah, kasihan dan segala empati yang meluap…lalu apa?
Yah itulah, apa seh yang sebenarnya mereka butuhkan? mereka bukanlah aktor yang sedang menjalankan salah satu episode melankolis dalam variety show! mereka adalah korban..mereka butuh sesuatu yang nyata..bukan sekedar ucapan simpati, ..dan tidak ada yang lebih menyakitkan ketika kita hanya menjadi penonton. Terkadang aku merasa cukup dengan berdoa,..bahkan memberikan donasi. Tapi, benarkah ini yang maksimal aku bisa?
Aku membenci eksploitasi kemiskinan, penderitaan ataupun ketidakberdayaan manusia melalui tata artistik yang mengharu biru dalam setiap tayangan media..aku sangat..sangat tidak menyukai variety show. Dan bencana sekali lagi sudah memberikan hikmah akan ke-digdayaan sang Kuasa.Semoga aku bisa memberi lebih, tanpa harus berkomentar banyak dalam setiap harinya dikungkung derasnya pemberitaan penderitaan mereka. Terkadang, skeptis tidaklah sama dengan tidak bersimpati sama sekali..biarlah ini menjadi sesuatu yang berguna dengan doa tulus..untuk semuanya. Karena..kitaakan,..pasti kembali juga kan…let it be…