no-free.jpgSetelah terbiasa membiasakan kebiasaan luar biasa,………

masih saja aku kesulitan menerima keterpanaanku dengan lapang dada…betapa fakta kenekadanmu membuatku takjub.

Hai friend, engkau sungguh nekad..Kehadiranmu sungguh membuat banyak orang bereaksi entah itu hujatan, cacian, kecaman,..dan ada juga kerinduan. Yup..Engkau bisa membuat seorang pentolan ormas kebakaran jenggot, bersiap mencanangkan genderang perang dengan wadya balanya. Bahkan kalangan aktivis perempuan sampai berkompromi dengan pemerintah mendesakkan pembuatan peraturan yang tegas mengenai keberadaanmu, karena dinilai telah meresahkan masyarakat. Ada juga yang bijak dengan mengusulkan perlunya pengkajian , sehingga apabila terbukti melanggar nilai-nilai kesusilaan yang terkandung dalam Undang-undang dapat ditutup, namun apabila tidak terbukti maka diserahkan pada selektifitas masyarakat untuk menghentikan peredaranmu.

Aih..sementara itu, “Induk Semang koran Independen” di negeri ini telah terang-terangan menolak keberadaan mu sebagai salah satu produk pers di negeri yang plural ini karena dinilai merupakan produk industri seks. Bahkan engkaupun harus bersiap menerima ribuan massa yang turun kejalan dengan mengenakan jilbab, gamis, pekikan kemarahan dan kalimah religius…tidakkah cukup engkau ingat dan sadari itu pada kemunculanmu yang perdana dulu?

Apa yang sebenarnya engkau ingin perlihatkan kepada kami? Tidakkah engkau menyadari penolakan itu akan meluas, termasuk juga di tempat kelahiran mu yang kedua ini? Benarkah karena engkau berniat menjumpai kerinduan segelintir pemujamu di seantero negeri yang tengah berduka karena bencana, namun bersuka saat malam tiba dalam pesona piala dunia?

Aku masih ingat ketika engkau menebarkan pooling dukungan akan keberadaanmu, hampir satu bulan terlewat dan sudah 7000 email dan sms engkau dapat..Bandingkan dengan sebuah LSM yang mengajak dukungan masyarakat menolak utang luar negeri, dan dalam waktu yang sama hanya berhasil meraih1300-an dukungan…Aih, betapa paradoks ini membuatku miris.

Benarkah engkau mengajarkanku digdayanya sebuah hegemoni kekuasaan media meniru induk semangmu yang engkau banggakan dengan kebebasan persnya?

Apapun itu, bersediakah engkau mendengarkan suara mayoritas negeri ini..bahwa kebebasan pers adalah untuk mereka yang berada di negeri dengan filosofi agama yang berdampingan dengan kebebasan..bukan pada bangsa yang masih belajar beragama sambil berdampingan dengan kebebasan..yang bermoral?

Jika engkau bertanya apakah aku akan menerimamu?…Entahlah karena aku masih belajar memahami kemungkinan menjadi sosok bereligius dengan atau tanpa keberadaanmu..Aku masih selfish..Jika kita percaya religi kita, tentu apapun bisa kita sikapi bijak..Mereka yang berkoar suara penolakan benarkah tidak se bejad penampilanmu? Apakah urusan moral dan agama hanya tersedot oleh kontroversi seputar kelahiranmu yang kedua ini? …Bagaimana standar moral yang lain…

namun satu yang harus engkau ingat, bila keberadaanmu mendekatkan kemungkinan anak-anakku menjadi budak dan pengikut setiamu…

Tunggulah..! Aku akan melawan..Dan setidaknya itu lah selemah-lemahnya yang bisa kuyakini akan ku lakukan..

No Responses Yet to “tantangan itu..bernama Playboy”

  1. tita said

    yap,… i’m agree with you!

Leave a Reply