Melepas perempuanku..

April 29, 2006

jk

Sesuatu sempat hilang s`telah kau pergi,tak cukup mengikat janji yang terucap tak bisa teryakinkan walau kau titipkan sejumput hati

sangatlah berbeda seperti menisik jala dalam gelap hari tak kutemukan makna, seperti batas hitam dan putih beradu nyata

Aku menghormati beda ego yang kentara,walau kau berbisik akan kembali suatu saat tak mungkin sama keyakinanku kelak, hanya sekelumit sudut matamu berembun tak cukupkah siksa perih ini beralun?

Ku biasakan …walau terasa dalam tapi menyakitkan tak cukup memberi gambaran akhir kita nantinya..Tapi bagiku mengetahui secukupnya lebih nyaman untuk saat ini

sekarang, lusa atau nanti…faktanya kau telah pergi…

selamat jalan perempuanku…

Cinta adalah …

April 29, 2006

Sejak itu bagiku cinta ibarat jaring laba-laba diantara dua bunga,
dekat satu sama lain; menjadi lingkaran cahaya tanpa awal dan tanpa akhir..
melingkari apa yang telah lahir dan memupuk selamanya untuk merengkuh yang akan hadir..
Jiwaku menasehatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan yang ada dibalik bentuk dan warna..
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.
Jiwaku menasehatiku dan menegurku agar menghargai waktu dengan mengatakan
"ada hari kemarin dan ada hari esok".

oi 

iwakDi..antara ‘Introvet” dan ‘Extrovet”, hati letih memilih, dengan dunia yang tak berbatas apa seh yang takbisa? bila yang bimbang itu peragu, yang lemah pastilah binasa.. peran yang dijalani akan sampai pada suatu masa, di mana arti kejujuran terinjak dogma, letih diam merengsek pergi..

Lalu meluruhlah waktu. Tanpa bisa apalah daya! Aku menulis sekedar berucap: masihkah aku introvert?

Selembar kertas tak cukup menahan luapan gairah merindumu Sungguh salah ucap nama bukan kesan terindah di awal perkenalan Debum jantung lebih kunikmati sebagai pengingat pesan

Sepertimu dulu dipelupuk mata, semua telah terbaca,tinggal melepas sauh sebelum senja kian menjauh, namun…tetap saja luruh…

Saat kudapati diri tercenung, ..kosong tak bergeming,..ku mendekat Kau malah menghilang dalam ribuan kumbang madu berserak

Lalu meluruhlah waktu. Tanpa bisa apalah daya! Aku bertahan setelah mengucap; perlukah aku ekstrovert?

Mungkin malam belum habis, inilah ode paling manis yang bisa kutulis. Dan bukankan lebih layak bila pikirku bertanya, ; “introvert” atau “ektrovet” dirimu?

Sering aku merindu bincang singkat kita tentang malam
berkali-kali kulihat bagaimana telunjukmu menunjuk bintang sebelum benar-benar hilang
aku sadar lontaran kata bijak selalu menitipkan banyak makna
kita dikisahkan sebagai rasi bintang yang tak pernah meredup menelusur perjalanan
setiap putaran waktu terus membawa kita menunduk takzim
tanpa mitos kisah lelaki tak bertuan, atau agama tak berseragam
sudahlah…inilah tempat kita melabuh sauh pagi hari
dunia sudah terlalu bising dikala terang
……
der Lalu aku masih saja berkutat dengan tulisan, ide-ide gila yang kupikir sebenarnya selalu membuat sensasiku melebihi apa yang masih bisa terjangkau akalku. Bila perubahan adalah sesuatu yang bisa tiap saat kita ciptakan, takan mudah aku berpindah hati menjinakkan sisi liarku menghamba mu…wahai dunia…

Kotaku…biasa saja

April 29, 2006

sdsdSebuah Pengakuan mengalir mengairi sungai kejujuran yang mengering. Pikiranku meneropong separo lebih perjalanan bermula.

Seingatku, itulah awal tempat aku pertama kali tercerabut lalu kita menjadi bocah-bocah ingusan telanjang tertawa berlarian riuh sebagai tanda waktunya kembali untuk melukis malam saat senja tak lagi seramah biasa. lalu kusadari, kadang tak ada gunanya kita kembali ke dalam kenangan lalu.

mungkin lebih baik kita kembali melayang dalam riuh jalan bertabur gemerlap dunia baru, menjelajahi ruang-ruang hampa yang masih menggoda, menyaksikan kehancuran demi kehancuran, mengumumkan sebuah kelahiran tunas baru di sebuah ranah asing tak berudara.

karena aku hanya titik yang tercerabut untuk tak termiliki lagi ..manusia bebas

Kota yang dulu…

April 29, 2006

Hei kamu harus beriku sanjungan karena mulai terbiasa mengendalikan denyut kehilangan kota

moonpinesthmBukan…bukan karena embun pagi di sela pepohonan alasTembalang yang dimaknai orang penyejuk hati selepas malam pergi

Itu hanya satu diantara sekian pesan yang begitu sederhana..sesudah masa ini tak ada lagi gelagat euphoria kesedihan tak ada yang luar biasa..tak ada utopia sebesar dulu hingga meluluhlantakkan ranah pengharapan

Semarang adalah tempat pertama sebuah dongeng bermula
dikucurkan ke syaraf bocah-bocah ingusan haus impian.
Tangan dan kaki adalah kanvas kisah perjalanan panjang yang tak mudah dicerna oleh mata dan ingatan waktu. bocah-bocah itu berjanji selepas usai akan melepas nyawanya, menjadi batu-batu bintang yang berbeda setiap malamnya. Satu per satu terpecah bersama sebuah janji akan pertemuan kembali…

Entah itu rasi bintang pari atau debu-debu kosmik sekalipun
kita adalah bocah-bocah itu dan kita sudah sampai padasebuah masa dimana pusat semesta menarik-narik kita pada satu titik pacu. di sana memoar kita ditaruh
sebagai tempat tuk mengenal kembali wajah-wajah yang berubah menua. Sepenggal doa kanutuh tubuh-tubuh kita, menjadi kau dan aku. menjadi kenangan dalam ranah kota
Bukan..bukan karena silir angin pantai Mas yang selalu dikenang orang dengan langgam kenangan sepeninggal dulu
membentuk impian yang kita tuju

nah kembali padamu, kotaku..
tak selamanya belajar dari kesalahan adalah mati
bangkit dari keterpurukan adalah pasti….
Tak perlu aku menjura
Hanya berucap terimakasih untuk 5 tahun tempaan itu
Thats all..
sepertimu, aku belajar bersyukur

Nasehat Pernikahan…

April 29, 2006

sombody,..please,
menjelang aku menikah
inikah awal tempat aku menua dalam akhir kebebasanku bermula?

dengarlah
pernikahan itu adalah bait pertama sebuah lagu
di tiupkan ke selasar telinga semisal tak nyaman tersenyumlah
berteriaklah..jika rangkaian nada seterusnya adalah keteraturan
perjalanan panjang yang tak sanggup dicerna oleh mata dan ingatan kebebasan

benarkah dari pernikahan kita terikat
lalu dari manakah kebebasan ini bermuara?
dari janji mengalir di bibir tipismukah
atau lesan yang jatuh terdiam terpental bak kotak Pandora yang terbuka
oleh retak waktu yang tak lagi punya senja?
bahkan fajar pun lesap
menguap dalam pelukan pagi

setiap rencana pernikahan yang aku ziarahi akan terus membawa ku
terambing dalam bimbang yang selalu terkutuk, selalu mengingatkan kenangan
pada malam tanpa lampu, obor yang kehabisan pijar, atau lambaian sulih purnama
dan mitos kesucian, atau kisah lelaki tua menjaga malam

menikahserentak aku eratkan peluk. lalu bergegas pulang
setelah sehari dalam alur kenangan,keluh kesah dan rencana..
ku pastikan
aku belumlah menikah

amarah masih berbekas seiring hela nafas bercampur,
gurat kecewa kentara di pias wajah lugu mu,..ironi
tetap tak mampu menghapus titik bening di sudut pelupuk
urung menetes terbias angin senja yang panas
aku mengerti sahabat,
engkau baru saja kehilangan cinta
yang entah lama ataupun sebentar tumbuh
cukup membuat tangguhmu rapuh
kini ku faham hakekat lemah sebenarnya
tapi setidaknya ku tahu ini bukan yang pertama
karena bukankah lebih menyakitkan kehilangan seseorang disaat kita masih
mencintainya ?
(lalu aku tersadar
aku masih belum beranjak mengharapmu
beralih ke lain hati tak semudah melepas sauh perahu
maafkan penghianatanku…bahwa aku belum siap melepasmu, perempuanku)

Bunga Rampai ,….

April 29, 2006

Sugeng Rawuh…di masinu.wordpress.com. Mr sagiIni hanya ekspresi diri,..setiap waktunya sangatlah berharga. Inilah penghargaanku untuk segala waktu yang terbaik.Kata itu bukan sesuatu yang tabu, tak perlu dikekang bila selebihnya adalah karangan,..Apa seh yang terlalu rumit dari mulut yang tak berucap? Tapi lebih mendalam pena yang bertautan.. Silahkan meneropong perjalananku!