Reff :
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong

Menarik, ketika saya searching kata “persahabatan”, “kepompong”…langsung yang keluar lirik lagunya Sindentosca, asli..dari hasil pencarian nomer urut 1 sampai terakhir di halaman pertama google..semuanya tentang lirik lagu band tersebut.

Lucunya, saya dan istri sempat ngledekin penyanyinya, mulai dari lagunya (termasuk lirik lagu “..na, na, na..”), video klipnya sampe ekspresi penyanyinya yang seperti orang apatis..hehe. Tapi ya itu, justru lama2 didengar, istri malah nyari lagu itu, pengin didownloadin.. hehe

liriknya sederhana, cuman mungkin keunikannya ya karena menampilkan sesuatu yang beda…so simple, lirik yang simple, penggunaan melodi yang sederhana dan video klip yang tidak elitis..pokoknya salut deh ama yang bikin ide lagu ini..

Trims juga, karena sekarang kalo lagi ledek2an ama istri, kita punya panggilan satu samalainnya …yakni kepompong, hehe

Pragmatis karena benar !

February 11, 2008

Kawan, pernah kah anda mencoba menghitung berapa besar penghasilan tukang sol keliling yang sudah memulai aktifitasnya sejak pukul 6 pagi dengan berjalan kaki?  Atau yang lebih simple, pernahkah ketika anda berangkat kerja seolah disekililing mobil atau motor anda lebih banyak beredar para PKL, pengamen atau anak jalanan? Jujur saya terganggu, bukan karena saya kejam atau tidak kasihan. Tetapi karena  empati saya ternyata  tidak sebanding dengan jumlah mereka. Setiap iba saya muncul, selalu ada wajah memelas ataupun tangan yang terulur dalam setiap perhentian berikutnya. Justru saya khawatir, akumulasi iba ini menjadikan saya nantinya sangat kebal dengan potret kemiskinan di Jakarta.

Dahulu, saya meyakini, bagian paling  mendasar agar kualitas hidup saya satisfied adalah dengan memahami konsep kebahagiaan yang paling dasar, memberi kegunaan (kebahagiaan untuk orang lain).

Sungguh effort saya untuk menjadikan konsep ini begitu idealis. Dan faktanya, konsep ini menjadikan saya sempat down, karena ternyata mengoptimalkan sense of empaty ternyata sangat menguras energi.

Terkadang seperti memainkan sebuah sandiwara, dimana kalau dipaksakan main maka akan membuat banyak peristiwa panggung yang tidak terpikirkan (missing-link) atau mudah terkena penyakit demam panggung. Empati yang muncul di permukaan, kadang tidak pernah bisa meredusir anti pati yang mengendap di batin yang terdalam. Kalau hal ini terjadi maka bentuk pembelaan-diri apapun di hadapan penonton tidak bermanfaat untuk menangkis peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

Premis-premis yang mendengung memenuhi ruang kepala selalu berkecamuk, memberikan perumpamaan yang membuat saya merasa bersalah.

“Tak ada yang menodongkan pestol ke kepala dan memaksa Anda menjadi penghuni Jakarta. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia, dan Jakarta adalah sorga dunia”

Lucunya, ada terselip premis positif yang menjadikan saya sedikit  terangkat moral

“Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab: hidup di desa belum tentu damai; jakarta belum tentu kejam” Last but not least, mungkin saya oportunis, bahkan judgement sebagian kawan menilai saya adalah pragmatis..

Tapi saya yakin, sudah lewat masa saya mencari tantangan. Yang ada justru tanggungjawab baru, fase dimana tantangan yang datang semakin kompleks. Saya yakin, tantangan bisa kita olah hanya menjadi sebuah pilihan, tapi tanggungjawab…adalah keniscayaan.

Ambiguitas sosok patriot

January 28, 2008

Sesaat saya tercenung, membaca kutipan pesan singkat dari seorang kawan, betapa dia sangat kehilangan figur yang sangat berpengaruh, .. dan Indonesia berkabung. Bahkan, kawan saya yang mantan aktivis ini pesimistis, how’s indonesia without soeharto…
Tapi dia menghibur diri, setidaknya kedepan akan ada perimbangan politik baru dalam era pemerintahan mendatang,..atau mungkin the new clan?
10 tahun, ..sudah berumur sepuluh tahun saat terakhir saya bersujud syukur di lapangan Simpang Lima semarang,..paska lengsernya the smiling general. The special one, among the worst n the best in Indonesia’s history
Ada perbedaan antara amarah dan kepuasan, bahkan kelegaan semu apabila menghitung peluh dan energi yang tercurah..
Berpanas ria merayakan euphoria “puncak kemenangan” kami, sebuah simbolisasi kejengahan massal yang masif. Mungkin terlalu reaktif, tapi sejujurnya saya merasa malu..
saya bukan patriot dan bukan pahlawan
lalu bagaimana untuk patriot yang sesungguhnya?
Sejujurnya, saya melihat Soeharto adalah patriot, bukan karena dia mantan presiden,..tapi karena dia adalah patriot bagi keluarganya
Membela, menafkahi dan memperjuangkan kelangsungan hidup keluarganya..itulah patriot menurut versi saya..
Sesungguhnya untuk saat ini,
Ambiguitas mengenai sosok patriotisme, seperti mencari kesempurnaan dalam hiruk pikuk fanatisme dan pemujaan yang berlebih.
Dan saya sependapat dengan Benjamin Franklin, .. ”Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu”
Dan tentunya kita sepakat dengan Samuel Taylor Coleridge. ”Kita tidak tau bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan ialah berbuat sebaik- baiknya dan berbahagia pada hari ini… ”
setuju kawan ?

3 pemberian berkesan

February 3, 2007

Rabu sore yang menyenangkan.., setelah pasrah melihat kondisi motor saya yang tidak dapat diajak berkompromi, akhirnya saya putuskan berkolaborasi dengan tukang ojek menuju rendezvous saya dengan seorang “WNA” dari Australia..he…kado1.jpg

Walhasi sebuah perjalanan singkat yang menegangkan, meliuk-liuk di sepanjang buncit bak valentino Rossi (bahkan mungkin melebihi apa ya), soalnya saya tidak sempat melihat sekitar..terlalu asyik menutup mata dalam doa hehe.. dan yang saya tahu saya masih gemetar akibat manuver..dan biayanya. Tapi ndak papa, saya akhirnya sampai dan memulai perbincangan yang menyenangkan setelah sekian lama tak bersua. Ditambah bonus satu pan pizza berbaur dengan kepulan teh wangi..cukup kiranya melengserkan peluh di tubuh, sebuah pertemuan yang sekali lagi menyenangkan..and at the end..i’ve got presents..wow..surprising me..

sebuah buku, sekotak coklat dan topi yang manis..saya suka karena memberi inspirasi yang menyegarkan…bagi saya, buku adalah sumber ilmu, secara tersirat saya merasa disemangatin untuk terus membuka cakrawala yang saya akui dalam perspektif saat ini cenderung stagnan dan terkadang membosankan..sementara coklat dengan seribu rasa (kaya’ di Harry Potter) mengingatkan bahwa..coklat tidak selamanya berasal dan berwarna coklat, namun dia begitu penting menjadi sumber energi tanpa melupakan kesan estetika..aih.. and the last, saya mendapat sebuah topi yang imu..melindungi saya di musim panas nanti. Seperti pengingat bahwa dengan saya merasa selalu terlindungi, tidak saja untuk jiwa raga saya namun akan lebih bijak bila dapat berbuat lebih untuk sesamanya..

tetapi yang terpenting, persahabatan kami yang lebih saya rasakan sebagai anugerah selama ini..tks girl… lets flow like water..

 

editor.jpgsurprise..!Thats all the funny times in my past..when i get my first part time job in my college..its gonna be my new experience that make me learning more bot  how to be journalist..

Sepintas saya merasa tersanjung saat mengenang sedikit keceriaan pada waktu berkecimpung di dunia jurnalistik kampus. Sebuah dunia baru yang membuat saya lebih berfikir dan beraktifitas efektif..mengapa? Karena saat itulah saya mengenal kata deadline! yah sesuatu yang membuat degup jantung dan pemicu otak serta adrenalin instan..Dan semua ketegangan itu hanya dapat terbayar saat melihat hasil cetakan koran kampus setiap bulannya..Dunia yang menarik bukan? Menjadi mahasiswa jurnalis ataupun jurnalis mahasiswa selalu memberikan pengalaman baru dan unik dalam setiap prosesnya. Entah kenapa, saya tidak pernah berhenti bersyukur atas segala kesempatan dan lesson learning yang membaptis saya untuk lebih mencintai dunia jurnalistik..

Mungkin bila ditarik kebelakang, mengapa saya sedikit bernostalgia tentang jurnalistik..karena saya tergelitik akan sesuatu yang menarik dari teman saya yang unik dan kini mendapat pekerjaan yang menurut saya asyiiik..EDITOR..sepintas kata itu mengingatkan saya akan sosok yang powerfull dengan tipe-X di tangan kanan dan penghapus di tangan kirinya. Sosok yang begitu dekat dengan kata delete, edit dan hal-hal yang berbau pengurangan (perbaikan) atas sebuah originalitas sebuah masterpiece seseorang yang sudah bersusah payah membuatnya..

Editor dimata saya itu berbeda sekali dengan creator..saya melihat sosok yang lebih (mungkin pemahaman saya kembali pada efisiensi) melihat sebuah produk sebagai sesuatu yang perfect (unfortunately) menurut versinya..Kewenangan (kekuasaan:Red) adalah sesuatu yang menjadi landasan bagi tindakan pencoretan, pengurangan, penambahan ..even penggantian elemen-elemen dalam sebuah masterpiece..tentunya mendekati sebuah kesempurnaan adalah keinginanan luhur seorang editor.

Melihat background seorang editor itu perlu loh guna mengetahui pendekatatan ataupun produk akhir berkiblat..tapi saya selalu salut pada pekerjaan (fungsi) editor..karena tidak mudah loh menjadi seorang yang mempunya kemauan dan kemampuan menyempurnakan masterpiece orang lain..dan saya? Sepertinya saya lebih suka dan sudah jatuh cinta pada sosok ..creator..lebih merasa menjadi diri sendiri dalam mengarahkan kemana otak dan perasaan saya ingin berkembang..tanpa merusak makna orisinalitas sebuah maha karya..apapun itu..

cincin1.jpgini tentang sebuah rencana..
acap kali saya melihat cincin kawin hanya penghias tangan..dingin, nyaman tapi bertahtakan beban dan ..
sering kali sebagai simbol pengingat..(karena) melekat itu perlu, menjerat itu mengganggu bukan?
yup..kebutuhan akan cincin kawin. Mungkin modal awal untuk membangkitkan kepercayaan diri manakala melihat daftar kebutuhan pernikahan yang tidak berbanding lurus dengan anggaran..
di saat seperti ini, saya ingin sekali berdebat dengan para penganut YPN-isme..(Red:Yang Penting Niat)..sepertinya mereka adalah sosok hebat yang ingin membuktikan sesuatu..(hak paten maybe?).
Ada cerita unik, kemarin di sela-sela mendengarkan cerita teman saya berkerudung dalam memaparkan perjuangannya akan menikah, saya secara tidak sengaja sempat ditanya “kenapa tidak segera manikah”

Dan saya dengan asal (namun dengan unsur kesengajaan yang rasional) menjawab pendek, “..belum ada duit neh..”
Tahukah jawaban tokoh tersebut? “Ati-ati lo mas, alasan itu yang sering jadi setannya..”
Jujur saya sempat berniat protes karena itu fakta yang saya alami, namun saya cukup berhasil meredam dengan berbalik memujinya
“Kamu hebat yah neng, udah sukses bisa mengadakan pernikahan sendiri..doakan saja saya cepat menyusul rejekinya..”
dan sesuatu yang membuat saya tertegun (terkaget dan tersenyum)..saat teman berkerudung saya bilang..
“ah saya juga dibantu ama orangtua kok, mas..”

jujur,.. saat itu saya merasa sedikit terhibur..karena sampai detik ini seluruh anggaran pernikahan, masih (dan akan ) berasal dari hasil keringat, hasil lelah saya…SENDIRI
..Allahu Akbar, berilah hamba kekuatan…Mudahkanlah rejeki kami..
dan saya semakin mengembangkan senyum…indahnya pernikahan

icon_seni_budaya1.gifSebuah berita di harian nasional cukup membuatku terusik untuk membacanya berulang-ulang,..lebih dari biasanya…”Microsoft menyuap (secara diam-diam) blogger dengan laptop..”
ah.. what amazing news? Microsoft? Blogger? atau mungkin merek dari laptop tersebut?
sepertinya pemikiranku akan berangkat dari item-item tersebut, ..namun saya teringat pada satu hal..yang mungkin dapat disusun dalam satu fakta awal ketika..si blogger itu ternyata rajin membuat tulisan setiap harinya, tentu dari situ dia terasah secara teori dan analisis mengingat kiprahnya yang mendapat pengsayaan dari para pengunjung blognya..yang mempunyai dampak justifikasi terhadap validitas tulisan si empunya blog sebagai salah satu alternatif rujukan terhadap suatu fenomena baru.
Berangkat dari kekuatan “tulisan” yang eksis..saya merasa ada perasaan hangat menggeliat ingin melepaskan diri dari kebekuan dan stagnasi yang mengkungkung..kerinduan akan suara tut komputer, perasaan haru biru dan senyuman yang mengembang saat menemukan padanan kata yang runtut..dan alur yang selalu memunculkan cerita-cerita baru, bahkan konflik yang sering terselip dalam setiap ending yang mutlak sepenuhnya berpulang pada kebebasan pikir seorang..penulis.
Dan kemerdekaan seorang penulis adalah kebebasan dalam berfikir, mengeksplorasikan apa yang diyakininya untuk terus berkembang, tumbuh mengakar kuat pada setiap geliat wacana dan rencana..
Dan kemerdekaan itu tidak pernah bisa dijajah oleh keterbatasan apa yang dimiliki,..ketejajahan itu ada pada pikiran kita yang mati, lemah terkontaminasi keraguan, ketesayatan dan jenuh yang tak berujung…
Pembelaan diri yang meninabobokanku dalam penghujung tahun lalu..
New year.. Read the rest of this entry »

meanwhile,let it be…

January 4, 2007

i’m stuff..its gonna be long long weekend…

tear.jpg

Aku sering menanyakan pada beberapa rekan,seberapa jahatkah aku bila aku muak melihat tayangan bencana di seantero nusantara..Pada awal tahun yang seharusnya kita berbenah dan menatap dengan senyum? Dan mereka hanya terdiam, bahkan mencela seraya menggeleng-gelengkan kepalanya..thats like answer for me. Is it wrong? Hampir keseharianku dihadapkan pada tayangan memelas, tangisan yang memilukan, darah, kasihan dan segala empati yang meluap…lalu apa?

Yah itulah, apa seh yang sebenarnya mereka butuhkan? mereka bukanlah aktor yang sedang menjalankan salah satu episode melankolis dalam variety show! mereka adalah korban..mereka butuh sesuatu yang nyata..bukan sekedar ucapan simpati, ..dan tidak ada yang lebih menyakitkan ketika kita hanya menjadi penonton. Terkadang aku merasa cukup dengan berdoa,..bahkan memberikan donasi. Tapi, benarkah ini yang maksimal aku bisa?

Aku membenci eksploitasi kemiskinan, penderitaan ataupun ketidakberdayaan manusia melalui tata artistik yang mengharu biru dalam setiap tayangan media..aku sangat..sangat tidak menyukai variety show. Dan bencana sekali lagi sudah memberikan hikmah akan ke-digdayaan sang Kuasa.Semoga aku bisa memberi lebih, tanpa harus berkomentar banyak dalam setiap harinya dikungkung derasnya pemberitaan penderitaan mereka. Terkadang, skeptis tidaklah sama dengan tidak bersimpati sama sekali..biarlah ini menjadi sesuatu yang berguna dengan doa tulus..untuk semuanya. Karena..kitaakan,..pasti kembali juga kan…let it be…

weding.jpgPernikahan adalah kompromi banyaknya perbedaan pasangan yang dikondisikan dalam keteraturan yang mengikat…Kadang dia mengalir seperti riak yang menyenangkan, dan selebihnya adalah …cerita sinetron bersambung tanpa ending

Aih..terlalu ekstrem kayaknya sebuah ‘new inovation’ word diatas..

Tapi percayalah, prolog diatas tuh penginnya jadi pembuka carut marutnya pemikiran yang sering disepelekan ama orang

Sekelumit pemikiran saya akan kebenaran mitos (mungkin pranata?) yang selalu menggoda alam waras saya..agar mengemasnya dalam keranda istilah baku yang populer..

Wuih..kayaknya agak sungkan juga mengantar prolog dalam pemikiran berikut..
P + E + R + N + I + K + A + H + A + N
Read the rest of this entry »

losts.jpgHadiah terbaik apa yang bisa kauberikan pada Tuhan? Sepersekian detik memaknai kehilangan tak juga berasa nyaman..masih saja aku berandai-andai makna keabadian.

Setiap kehilangan selalu mendatangkan pesan mendalam, kadang sebagian dimaknai hikmah, sementara orang memaknai cobaan, sisanya meradang penuh kemarahan.. aku masih ingat sepupuku yang hingga kini marah pada Tuhannya..meninggalkan segala kewajiban dan sunah Rasulnya..karena kehilangan kakak kandung akibat penyakit yang dideritanya, sebuah mukjizat yang tak terselamatkan..bagaimana sosok militer yang selama ini membuatnya tangguh seketika runtuh mengiringi isak tangis memelas..sebuah ironi mengingat penyesalan kami tak bisa mendampingi sosok almarhum disaat terakhir..

Disuatu masa, aku pernah cemburu pad seseorang yang sudah tiada…yang telah membuat “yang tersayangku” menangis sedih di hari ulang tahunnya. Betapa aku meradang menyadarkannya untuk tabah, dengan kecemburuan meluap mengira aku telah tergantikan..dan sekali lagi, kehilangan itu menyakitkan…

Menangis, meradang, meratapi segala kehilangan kita..sekali lagi bukan bermaksud menentang takdir..anggaplah itu seperti puncak kompromi keikhlasan kita..karena sesungguhnya..manusia akan terus menjumpai..kehilangan yang menyenangkan